Ikuti Kami
Advertisement
Advertisement

Profil Singkat Umi Yati, Birokrat Yang Jauh Dari Lensa Ketenaran

Redaksi Titik Nol News Januari 23, 2026 2 Min Read 518 Views
Share:

Birokrasi kita gemar mengukur kesuksesan dari kecepatan naik jabatan. Promosi menjadi tujuan. Sistem karier Aparatur Sipil Negara pun kerap terasa lebih bising oleh ambisi daripada senyap oleh kinerja. Di tengah lanskap itu, kisah Umi Yati justru memperlihatkan celah yang jarang dibicarakan.

Tahun 2005, Umi Yati dilantik sebagai ASN dengan latar akademik Sarjana Pertanian Universitas Udayana Bali (2004). Ia memulai karier tanpa euforia. Sejak awal, ia memilih bekerja di ruang yang tidak selalu terlihat, sebuah pilihan yang dalam sistem promosi kita sering kali tidak bernilai poin.

Tahun 2007–2013, ia dipercaya menjadi Bendahara Umum Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima. Posisi strategis ini menuntut presisi dan integritas tinggi. Namun dalam sistem promosi ASN, kerja-kerja yang menjaga agar tidak terjadi kesalahan sering kalah dihargai dibanding mereka yang menciptakan program baru, meski belum tentu berumur panjang.

Tahun 2013–2015, saat ia menjabat Kepala Seksi Perbenihan Tanaman Hortikultura, jalur strukturalnya sebenarnya terbuka. Secara normatif, masa kerja dan pengalaman sudah mencukupi untuk terus naik. Tetapi sistem promosi tidak selalu bekerja berdasarkan kedalaman pengalaman dan lamanya pengabdian, melainkan kelincahan membaca momentum dan kedekatan pada pusat keputusan.

Periode 2015–2022, Umi Yati kembali menjadi Kepala Subbagian Keuangan. Tujuh tahun di satu posisi adalah waktu yang panjang. Dalam logika meritokrasi, durasi ini semestinya melahirkan akselerasi karier. Namun dalam praktik birokrasi, stabilitas justru sering dibaca sebagai ketiadaan ambisi. Sistem kita lebih cepat memberi ruang bagi mereka yang terlihat aktif bergerak, bukan bagi mereka yang memastikan roda tetap berputar.

Sejak 2022 hingga kini, jabatannya beralih ke fungsional sebagai Analis Keuangan Pusat dan Daerah yang memperlihatkan sisi lain problem promosi ASN. Jalur fungsional kerap menjadi “ruang parkir terhormat” bagi aparatur berpengalaman yang tidak masuk dalam arus kompetisi struktural. Padahal di sanalah keahlian paling dibutuhkan.

Dua puluh satu tahun mengabdi di satu dinas, dengan golongan III/D yang telah disandang selama sembilan tahun, Umi Yati bukan contoh kegagalan individu, melainkan cermin sistem. Sistem promosi ASN masih terlalu sibuk menilai siapa yang terlihat aktif bukan siapa yang paling berpengalaman. Pengabdian, integritas dan konsistensi tidak selalu menjadi mata uang utama dalam promosi.

Kisah Umi Yati ini mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: apakah benar sistem karier ASN dirancang untuk menghargai kerja yang senyap dan konsisten, atau justru mendorong aparatur berlomba terlihat aktif?

Selama promosi masih lebih ditentukan oleh kebisingan daripada keberlanjutan,  maka birokrasi akan terus kehilangan mereka yang memilih bekerja tanpa riuh. Padahal merekalah pondasi kuat yang menopang keberlangsungan Daerah.

Penulis : Zulchijjah Djuwaid

Terpopuler

Tidak ada data populer saat ini.