Titiknolnews.com | Bima — Di tengah gempuran kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Hj. Mahdalena, S.S., M.M menegaskan bahwa guru madrasah, guru ngaji, dan pengelola TPQ adalah benteng terakhir penjaga moral dan akhlak generasi.
Penegasan itu disampaikan Anggota DPR RI Kapoksi VIII Fraksi PKB tersebut saat menggelar Ngobrol Pintar (Ngopi) Bersama Hj. Mahdalena bersama ratusan pendidik keagamaan se-Kabupaten Bima.
Kegiatan kolaborasi Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB bersama Kementerian Agama, didukung UIN Mataram ini menjadi wadah silaturahmi hangat antara wakil rakyat dengan para penjaga pendidikan dasar keagamaan.
“Di era digital ini, anak-anak kita setiap hari bersentuhan dengan gadget dan AI. Kalau bukan guru madrasah, guru ngaji dan pengelola TPQ yang menjaga, siapa lagi? Kalianlah benteng terakhir moral generasi kita,” ujar Hj. Mahdalena di hadapan peserta.
“Walaupun AI ini sangat pintar, bahkan bisa lebih pintar dari manusia, ada yang membedakan: mesin tidak memiliki hati, sedangkan manusia memiliki hati. Itulah perbedaan mendasar kita dengan AI. Hati itu yang diajarkan oleh guru-guru ngaji kita,” tegasnya.
Ia mengakui, perhatian negara melalui APBD maupun APBN terhadap TPQ dan pendidikan madrasah tingkat dasar masih minim. Karena itu, Hj. Mahdalena berkomitmen akan memperjuangkan dukungan konkret, baik secara pribadi maupun melalui jejaringnya legislatif di Jakarta.
Hj. Mahdalena pun menutup dengan harapan besar. Ia menyebut pertemuan Ngopi ini baru permulaan dan akan ada kegiatan lanjutan pada Desember mendatang sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan UIN Mataram, Dr. Herlin Fandi,M.Hum menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya soal keterampilan teknis, melainkan ikhtiar menjaga nilai-nilai keagamaan agar tetap relevan di era digital.
Memasuki sesi inti, Dr. Ikhsan,M.Pd selaku Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Bima tampil sebagai pemateri utama dalam program Guru Madrasah Cakap Digital dengan tema “Penguatan Literasi Digital, Etika Bermedia dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran”.
Dalam paparannya, Dr. Ikhsan menjelaskan secara praktis bagaimana AI dapat membantu guru madrasah, guru ngaji, dan pengelola TPQ dalam menyiapkan materi ajar, membuat metode pembelajaran yang menarik, hingga mengelola administrasi kelas, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Pada sesi pemaparan materi, Dr. Ikhsan, menyampaikan empat pilar utama literasi digital, yaitu Digital Skills (kecakapan digital), Digital Culture (budaya digital), Digital Ethics (etika digital), serta pemanfaatan AI untuk pembelajaran. Ia menjelaskan keempat pilar itu saling melengkapi agar para pendidik dapat menggunakan teknologi secara bijak di lingkungan madrasah dan TPQ.
Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti guru. “AI bisa membantu membuatkan soal, rangkuman kisah Nabi, atau media visual untuk anak TPQ. Tapi yang menanamkan adab, akhlak, dan keteladanan tetap guru. Teknologi hanya alat, gurulah ruhnya,” jelas Dr. Ikhsan.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika bermedia. Guru madrasah dituntut mampu menyaring informasi, menghindari hoaks, dan mengajarkan literasi digital yang sehat kepada santri dan siswa di tengah derasnya arus informasi dunia maya.
Acara ditutup dengan sesi diskusi yang penuh semangat. Para guru madrasah dan pengelola TPQ kompak menyuarakan harapan yang sama: agar pendampingan seperti ini terus berlanjut, mengingat tantangan di lapangan semakin kompleks, dari minimnya fasilitas hingga derasnya pengaruh gadget pada anak didik.(Red)



