Titiknolnew.com | Bima, 2 Juli 2026 Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Komisariat STKIP Taman Siswa Bima secara tegas mengutuk keras tindakan arogan dan represif yang dilakukan oknum dosen serta pihak kampus terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi. Pihaknya menilai peristiwa ini membuktikan STKIP Taman Siswa Bima telah berubah menjadi kampus yang anti terhadap kritik dan ruang demokrasi.
Pernyataan sikap ini dikeluarkan menyusul insiden di mana pihak kampus secara paksa membubarkan massa mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi, bahkan sampai melancarkan tindakan kekerasan fisik terhadap sejumlah mahasiswa.
Saya sangat mengecam tindakan arogansi pihak kampus yang membubarkan massa penyampai aspirasi sampai berujung pada kekerasan fisik. Kok bisa main tangan? Argumentasi harus dijawab dengan argumen, bukan dengan intimidasi apalagi melakukan sentuhan fisik seperti ini, tegas Ketua Umum HMI MPO Komisariat STKIP Taman Siswa Bima

Lewa Mori Karaoke Family Diduga Jadi Tempat Pesta Miras, Pemuda Desak Polres Bima Bertindak

Menurutnya, lembaga pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang paling terbuka bagi dialektika pemikiran, pengembangan wawasan, serta pembelajaran demokrasi yang sehat. Alih-alih mendengarkan dan merespons aspirasi, tindakan represif justru menunjukkan ketidakdewasaan dalam mengelola perbedaan pendapat.
Kampus tidak boleh menjadi ruang sunyi yang tak boleh digugat. Jika kritik dijawab dengan kekerasan, maka berhentilah menyebut diri ini tempat mencerdaskan kehidupan bangsa. Tindakan ini sungguh memalukan dunia pendidikan, tambahnya.
HMI MPO Komisariat STKIP Taman Siswa Bima menuntut pihak pimpinan kampus untuk segera menelusuri dan memproses tegas oknum yang terlibat dalam tindakan kekerasan tersebut. Selain itu, kebebasan berpendapat dan keamanan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi wajib dijamin sepenuhnya tanpa rasa takut diintimidasi maupun dianiaya.


