Titiknolnews.com | Bima — Kolaborasi antara UIN Mataram, Kementerian Agama Kabupaten Bima, dan Anggota DPR RI Dapil NTB 1 Hj. Mahdalena, S.S., M.M. menggelar kegiatan Penguatan Moderasi Beragama bagi peserta didik di madrasah se-Kabupaten Bima.
Kegiatan tersebut menghadirkan langsung Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bima, H.Mujiburrahman, S.Ag. sebagai pemateri, Hadir pula Dr. Erwin, M.Hum. mewakili Rektor UIN Mataram, para Kepala KUA, kepala madrasah, guru, tenaga pendidik, dari berbagai madrasah di Kabupaten Bima.

Dalam sambutannya, Dr. Erwin, M.Hum. mewakili Rektor UIN Mataram menekankan bahwa moderasi beragama adalah fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berprinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa,” ujarnya.
Menurutnya, UIN Mataram sebagai mitra strategis Kementerian Agama terus berkomitmen mengawal penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan, khususnya di madrasah, agar peserta didik mampu mengamalkan ajaran agama secara moderat dan toleran.

Bahas Kamtibmas dan Penegakan Hukum; Kapolres Bima Koordinasi Dengan Bupati dan Wakil Bupati Bima
Dalam arahan Anggota DPR RI Dapil NTB 1, Hj. Mahdalena, S.S., M.M., menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.
Ia menyampaikan, perbedaan yang ada di tengah masyarakat seharusnya menjadi kekuatan, bukan menjadi pemicu perpecahan.
“Karena dengan berbeda-beda, kita justru semakin kuat. Ketika tidak ada hal yang membuat kita bersatu, maka terjadilah perpecahan dan pertikaian. Hal itu tidak kita inginkan,” ujar Hj Mahdalena.
Ia menegaskan, dirinya terus berupaya memastikan program dan kegiatan di madrasah sejalan dengan indikator serta nilai-nilai yang menjadi perhatian Kementerian Agama.
Menurutnya, moderasi beragama menjadi jembatan penting untuk menjaga persatuan.
“Moderasi beragama sangat diperlukan. Di tengah keragaman kita, pemahaman agama yang bijaksana adalah jembatan persatuan. Dengan moderasi, perbedaan justru menjadi kekuatan bangsa,” tegasnya
Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPR RI Dapil NTB 1, Hj. Mahdalena, S.S., M.M., menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kesejahteraan guru madrasah.
“Sebagai Anggota DPR RI, komitmen saya jelas. Kami akan tetap menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi terkait kesejahteraan Guru Madrasah di bawah naungan Kementerian Agama. Ini bukan sekadar janji, ini tanggung jawab moral saya sebagai wakil rakyat dari NTB,” tegas Hj Mahdalena.
Ia mengaku memahami kondisi riil guru madrasah di lapangan.
“Saya mendengar langsung dari Bima, banyak guru madrasah, terutama guru honorer dan swasta, yang masih berjuang dengan kesejahteraan yang belum layak. Mereka mendidik dengan ikhlas, tapi hak mereka belum sepenuhnya terpenuhi. Ini yang harus kita ubah bersama,” ujarnya.
Hj Mahdalena menegaskan akan mengawal di tingkat pusat. Ucapnya.
Kepala Kemenag Kabupaten Bima, H. Mujiburrahman,S.Ag. dalam pemaparan materi menjelaskan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai cara hidup bersama.
“Moderasi beragama bukan sekadar pemahaman teologis, melainkan cara kita hidup bersama di tengah keberagaman. Madrasah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai ini kepada peserta didik, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan menghargai sesama,” jelasnya.
Ia juga memaparkan langkah konkret penerapan di lapangan.
“Penerapan moderasi beragama di madrasah dilakukan melalui pembiasaan sehari-hari, pembelajaran di kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Kita ingin peserta didik memahami bahwa beragama itu tidak hanya tentang ibadah vertikal kepada Tuhan, tetapi juga tentang cara memperlakukan sesama dengan baik, jujur, dan penuh kasih sayang. Tidak ada toleransi yang berlebihan, tidak ada kebencian yang diajarkan yang ada hanyalah kebenaran yang disampaikan dengan cara yang bijaksana,” paparnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di setiap madrasah di Kabupaten Bima, sehingga melahirkan peserta didik yang cerdas secara spiritual dan menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman.(Red)


